Jumat, 08 November 2013

Empowerment, Definisi (Conflict)


Tulisan 13

Conflict (konflik)

Menurut Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) yaitu : Conflict is a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another yang kurang lebih artinya konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
Menurut Stoner Konflik (dalam  organisasi ialah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi, atau kepribadian. (Wahyudi,       2006:17).

Daniel  Webster           mendefinisikan konflik           sebagai:
1. Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain.
2. Keadaan atau perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001).

Ciri-Ciri
Konflik

Menurut Wijono( 1993 : 37) Ciri-ciri Konflik            adalah  :
1. Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu
    interaksi       yang    saling   bertentangan.

2. Paling tidak timbul pertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam
  
    mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling
   berlawanan.

3. Munculnya interaksi yang seringkali ditandai dengan gejala-gejala perilaku yang direncanakan
    untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh
    keuntungan seperti: status, jabatan, tanggung jawab, pemenuhan berbagai macam kebutuhan
    fisik: sandang- pangan, materi dan kesejahteraan atau tunjangan-tunjangan tertentu: mobil,
    rumah, bonus, atau pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman, kepercayaan diri,
   kasih, penghargaan dan aktualisasi diri.

4. Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut
   larut.

5. Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan
    kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan
   sebagainya.




Tahapan-Tahapan    Perkembangan          kearah           terjadinya      Konflik           :

1.
Konflik masih tersembunyi (laten) berbagai macam kondisi emosional yang dirasakan sebagai
   hal yang biasa dan tidak dipersoalkan sebagai hal yang mengganggu dirinya.

2. Konflik yang mendahului (antecedent condition)
tahap perubahan dari apa yang dirasakan secara
    tersembunyi yang belum mengganggu dirinya, kelompok atau organisasi secara keseluruhan,
   seperti timbulnya tujuan dan nilai yang berbeda, perbedaan peran dan sebagainya.

3. Konflik yang dapat diamati (perceived conflicts) dan konflik yang dapat dirasakan (felt conflict)
   muncul sebagai akibat antecedent condition yang tidak terselesaikan.

4. Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior)
upaya untuk mengantisipasi
   timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya; individu, kelompok atau
   organisasi cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melalui perilaku.

5. Penyelesaian atau tekanan konflik
pada tahap ini, ada dua tindakan yang perlu diambil terhadap
    suatu konflik, yaitu penyelesaian konflik dengan berbagai strategi atau sebaliknya malah ditekan.

6. Akibat penyelesaian konflik
jika konflik diselesaikan dengan efektif dengan strategi yang tepat
    maka dapat memberikan kepuasan dan dampak positif bagi semua pihak. Sebaliknya bila tidak, 
    maka bisa berdampak negatif terhadap kedua belah pihak sehingga mempengaruhiprodukivitas
    kerja (Wijono, 1993, 38-41).

Sumber :
Robbins, P. Stephen & Coulter Marry. 2007. Manajemen. Edisi 8. Jakarta: Indeks
Neubert, Dyck, (2009, 2007), Principles Of  Management, South-Western



Tidak ada komentar:

Posting Komentar